febbraio 19, 2007

birokrat hidrasus indonesianus?

Tipikal birokrat Indonesia?

Pernyataan publik alla "suck you in" : "sudah tidak boleh ada lagi diskriminasi rasial" atau "warga Tionghoa di Jakarta mendapat kemudahan mengurus kartu tanda penduduk (KTP), akta kelahiran, pencatatan pernikahan".

1. Benarkah warga Tionghoa di Jakarta tidak lagi didiskriminasi? Beh ... ujar Gubernur "Saat ini memang belum ada peraturan pelaksanaannya". Hmmm hidra berkepala tiga kah?

2. Mengapa anti-diskriminasi ini tidak diterapkan kepada semua penduduk Indonesia tanpa harus HANYA suku tionghoa saja? Apakah warna Indonesia non-Tionghoa tidak diperas saat harus mengurus dokumen?

Wink-wink, kamu dan aku sama tahu jawabannya euy.

ciaooo

______________________________________________________
Sutiyoso: Jakarta Kota Anti Diskriminasi

JAKARTA, KOMPAS - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dalam peringatan Imlek 2558, Minggu (18/2), menegaskan, Jakarta menjadi pelopor antitindakan diskriminasi rasial.

"Sejalan dengan Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006, sudah tidak boleh ada lagi diskriminasi rasial terhadap etnis tertentu. Warga Tionghoa tidak boleh dipersulit saat mengurus dokumen kependudukan. Jakarta menjadi pilot proyek nasional dalam kegiatan ini," ujar Sutiyoso di halaman Wihara Dharma Bakti (Jin De Yuan) di Petak Sembilan, Taman Sari, Jakarta Barat.

Menurut Sutiyoso, warga Tionghoa di Jakarta mendapat kemudahan mengurus kartu tanda penduduk (KTP), akta kelahiran, pencatatan pernikahan, dan keperluan terkait dokumen kependudukan lain. Gubernur memerintahkan agar seluruh kelurahan di Jakarta menindaklanjuti kebijakan tersebut.

"Saat ini memang belum ada peraturan pelaksanaannya. Namun sudah ada surat menteri yang memerintahkan ada kemudahan untuk pencatatan kependudukan. Semua warga negara memiliki kesetaraan hak dan kewajiban di Indonesia," ujar Sutiyoso.

(...)

febbraio 03, 2007

Tidbits of Italy —where old tradition lives in abondance

Image Hosted by ImageShack.us

Entah apa jadinya dunia yang kita tempati ini tanpa guardians of tradition, negara-negara macam France dan Italia, yang untungnya masih saja setia menjaga warisan kebudayaan mereka di tengah gempuran kultur transgresif à la amerika.

Tentu saja negara “old Europe” ini ditunjang oleh “patrimonia nazionale” —national heritage— salah satunya berupa kota-kota megah abad pertengahan.

Kota di mana saya berteduh, Perugia, misalnya.


Image Hosted by ImageShack.us
Calzolaio (di zaman serba instan ini, pakaian buatan pabrik dan “made in china” semakin marak, untungnya masih hidup tradisi kuno pembuatan kaus kaki artisanal. Calzolaio = pengrajin kaus kaki)


Clown (badut, bergegas pulang setelah lelah menghibur publik)


Edicola (newsstand, kios koran modern bersanding dengan gedung antik)

Image Hosted by ImageShack.us
Mini (jalanannya sempit dan kecil, maka kendaraan yang tepatpun haruslah mini)


Museo Nazionale dell’Umbria (museum kebanggaan kota Perugia, pemilik artefak Etruska terbanyak, di seluruh peninsula Italia)


Pasticceria Sant’Ercolano (patisserie tradisional, setia menggoda publik yang melewati jendelanya)

gennaio 20, 2007

Napoli


Napoli (Naples), Campania, Italia

Oyah, kemaren saya sempet hop in trenitalia, menuju ................ errr, Napoli. Kota greco-spagnolo yg aneh itu. Dari awal udah rada serem, tiap hari di tv di sini -Italia- banyak genangan darah di jalanan Napoli, turis dirampok etc, temen2 Romani juga bilang super ati2 (dompet ditaro di tempat tak terjangkau –haah, emang hari gini masih gaya naro dompet di balik cangcut?) ... anyway, saya ambil kereta regionale yg paling murah, banyak sih eurostar tapi beda harga bikin begidik.

Tiba di napoli centrale, disorientasi, berharap ada informasi turis buat ambil peta atao apa kek, dan saya berharap terlalu banyak. Tidak ada kios turisme di stasiun!

Napoli memang bizarre. Soal traffico, Roma aja udah kacau, Napoli itu dobel -motor2 seliweran merasa raja jalanan. Pelacuran terang2an, jam lima sore udah memajang diri dg bergerombol para "donnaccie" -pelacur- sambil melirik ke pelalulalang. Anak2 kecil 5 atau 6 taon «scugnizzo» -raskal- melaju dg motor mini mereka, dengan pilox di tangan, mencoret mobil2 yg mereka lalui.

Bukan saja sampai di situ, anak-anak remaja tanggung, 15 tahun-an. bukannya berada di sekolah tapi malah berkerja. Realitas kehidupan keras Napolitana???

Banyak pula ibu-ibu Napoli yang berjualan rokok dengan harga murah. Rokok ilegal sebetulnya. Rokok contraband. Rokok tak berpajak. Saya pikir ini potret usang Napoli tahun 70-an atau apalah, cerita di buku-buku tua. Tapi masih saja aktual. Dan tak ada satu polisi pun yang saya lihat mempatrol jalanan Napoli.

Gila euy!

Pedagang kaki lima bukan saja org Afrika tapi juga para Napolitani yg harus survive bergerilya mencari sesuap nasi. Di jalan,
kebanyakan org bicara dialetto napolitano, saya bukan saja ngga ngerti
dialetto tapi juga saat mereka bicara italiano-italiano, susah nangkep
aksennya yg bizarre itu. Apa mau dikata, Napoli bak dunia lain!

Napoli in images :
(komentar akan sangat diapresiasi)


Fruttivendolo (fruitstall)


Panni in aria (Napoli's famous washing lines) ubiquitous everywhere in Napoli


Vicolo (Napoli's sombre alleyways)


Bidonville (Napoli, a dirty port town)

gennaio 03, 2007

Ambiente et Bookshelves

Excuse moi for the terrible linguistical mélange of the title above. More simply intended, ambiente (italian) means environmente. Et for "and".

And bookshelves. Those sombre looking pieces of wood neatly assembled together and, rather often, later end up in one's salone, or study room, or proudly compliment a living room.

I admit it. I don't really buy books. I read, heaps, though. (phiuuuwh, what a relief to know that!)

And the horrendous excuse would be, I've never had spaces in a house of my own. Been nomadic, you see, across half the world. And, what a tough luck for me, in Italy, or rather in Europe, the temptation has never been more forté. I gotta buy books. Not so much of textbooks, rather a bummer than pleasure that is.

All the signs couldn't have been more clearer. The necessity is pretty convincing. The need, too, connived with the first two. So I have been studying Italian and Italian texts
, now, I can read and understand them. No, not the stuff of letterature .

Bargain books. Yeaaah, a one way ticket for any self respecting broke student.

I bumped, at a chain shop vending all sorts electronic goods here in Rome, into a bookshelf, and in the end bagged myself a Jacques Prévert's work.

The French poet, born in 1900 in Paris and ceased 77 years later, poured down his heart to his content into lines of poetry of amour and liberté. Of life in Paris through the early 20th century.

Love it heaps albeit not prepared to weep my soaking up eyes.

La belle saison

A jeun perdue glacée
Toute seule sans un sou
Une fille de seize ans
Immobile debout
Place de la Concorde
A midi le Quinze Août

°°°

The beautiful season
An undesirable lost fasting
All alone without dosh
A girl of sixteen
Standing immobile
Place de la Concorde
At midday of August the fifteen