dicembre 25, 2011

National Geographic Traveler Indonesia

Published works (images) on National Geographic Traveler Indonesia

- December 2011 (Ticino, Switzerland)
http://dl.dropbox.com/u/15458402/NatGeoTrav/048-047DenyutKotaSwiss.pdf

- October 2011 (Malta)
http://dl.dropbox.com/u/15458402/NatGeoTrav/0310_48jamMalta.pdf

aprile 14, 2011

Palazzo Braschi

It's nearly pointless to state Rome has pretty buildings and museums. The eternal city boasts a collection of palaces and historical edifices dating from any period you can think of, up to 2 millenia back.

From 9-17 April, it's free entry to all state museums. Palazzo Braschi in Piazza Navona is one of them. And I have been wanting to check it out.

So what do you get? Massive marble statues and busts at the foyer, bas relief along the stairs, Rome-themed paintings (worth checking out), affresco on the ceiling (Classic Roman style) and a view of Piazza Navona from the windows on the second floor!






Ref.

http://www.marcopolo.tv/articolo/notte-dei-musei-roma-2011

http://www.beniculturali.it/mibac/export/MiBAC/sito-MiBAC/Contenuti/MibacUnif/Eventi/visualizza_asset.html_1672836224.html

aprile 04, 2011

Resensi Lupakan Palermo Maret 2011

Mar 29, 2011 Harun Harahap

Shelves: fiksi, indonesian, punya, travelling

Pertama kali kenal tulisan Gama Harjono itu dari bukunya berjudul "Ciao Italia: Catatan Petualangan Empat Musim". Gue suka sama buku itu karena bisa memberikan gambaran bagaimana situasi dan kondisi negeri Italia. Sebuah negara yang selalu dianalogikan dengan lelaki dandan yang tampan dan makanan yang super super lezat.

Nah, ketika gue melihat buku ini, sontak gue langsung pengen beli dan baca tentunya. Jujur gue agak ragu pas pertama kali mau baca, karena bentuk bukunya adalah novel. Bukan seperti bukunya yang terdahulu yang merupakan catatan petualangan. Ditambah lagi dengan adanya penulis lain selain Gama dalam pembuatan buku ini. Mungkin ceritanya akan amburadul karena keegoisan masing-masing dalam menentukan jalan cerita.

Akhirnya sih gue baca juga, ceritanya ternyata cukup ringan. Walaupun banyak fiksinya, tapi penulis bisa memberikan berbagai gambaran tentang kota Palermo. Tempat-tempat menarik yang bisa kita kunjungi di sana. Tak lupa berbagai makanan yang terdengar nikmat sekali. Slurp!

Hal yang mengganjal buat gue adalah ketika Reno sepertinya kesulitan dengan percakapan menggunakan bahasa Italia bersama Alesio. Tapi beberapa halaman berikutnya masih di hari yang sama, keduanya sudah lancar berkomunikasi. Voila!

Lalu banyak kalimat berbahasa Italia yang tak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Duh, jadinya gue menebak-nebak deh artinya apa (males googling). Tapi bagaimanapun buku ini cukup menarik untuk dibaca kalau anda ingin mengetahui kota Palermo.

Nikmatilah esensi dari kehidupan masyarakat Sisilia, Food and Love!

_ _ _ _ _

Grazie — Makasih ya!

marzo 21, 2011

The Journeys

Segera terbit, The Journeys.

Kumpulan cerita travelling dari 12 penulis.



More details soon...

settembre 30, 2010

Lupakan Palermo

TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT

Situs, klik GagasMedia



Judul : Lupakan Palermo
Penulis : Gama Harjono & Adhitya Pattisahusiwa
ISBN : 979-780-442-9
Jumlah halaman : 404 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm


Mencintai dia adalah hal paling mudah yang pernah aku lakukan seumur hidup. Bersama dia membuat waktu seolah berhenti seketika. Hanya ada aku, dia-dan cinta. Dia adalah kekasih, dia juga sahabat bagiku. Tak ada penjelasan pasti tentang bagaimana dia bisa menyelinap masuk, tinggal di sana-di tempat paling spesial di dalam hatiku.

Jadi, kurasa kau mengerti kenapa berpisah darinya adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan. Merindukannya membuat waktu berjalan lambat sekali. Banyak yang ingin aku katakan-SMS tak mungkin cukup membendungnya. Dan waktu lebih kejam daripada dugaanku semula. Jarak dan keinginan bertemu disihirnya jadi rindu. Rindu disihirnya menjadi ragu.

Aku bukanlah laki-laki kuat. Di suatu masa, di antara hari-hari tanpa dirinya, aku melakukan sesuatu yang kelak akan kusesali seumur hidup. Hatiku mendua....


*** REVIEWS ***

agosto 30, 2010

Ghedafi dan 500 Bidadari

Baru-baru ini saya backpacking di Maroko. Di ujung utara benua Afrika, di antara rana Eropa dan warisan budaya Timur tengah, Maroko memberi saya kesempatan menyaksikan betapa agama memiliki peranan besar dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi, mestikah kita mempengaruhi orang lain dengan kepercayaan kita?

Kolonel Ghedafi, pemimpin (sebagian orang menyebutnya diktator) Libia tengah berada di Italia. Biasalah, power talk, business lunches dan, tentu saja, jual-jual minyak.



Sang Kolonel berkumis ini terkenal party animal, gila pesta. Di kediaman duta besar Libia, Ghedafi mengundang 500 gadis Italia yang belia nan cantik. Tak punya rupa manis, lupakan bisa mendapat undangan.

Acara ramah tamah nan mewah ini ternyata diisi oleh presentasi Islam. Kepada 500 gadis cantik, Ghedafi memberi cenderamata Qoran sekaligus meminta gadis-gadis itu berpindah agama.

Terbayangkah jika kisah seperti ini terjadi sebaliknya? Presiden Prancis datang ke Indonesia misalnya, dan meminta perempuan Indonesia memeluk agama Katolik? Wah, penduduk RI pasti protes dan mencak-mencak, perang dingin dengan Malaysia bakal jadi cerita halaman belakang.

agosto 22, 2010

Pemilu Australia

Pemilu Australia


Mengamati proses demokrasi milik bangsa lain bukan cerita baru, ini barangkai obsesi setiap ruling class.

Tanggal 21/8/2010 lalu, negeri kangguru merampungkan pemilu mereka, 'election' itu bahasa kerennya — kebetulan saya menjadi bagian langsung proses ini.

Bagi fans konvoy mobil-motor, yakni arek-arek dengan kaos berwarna bendera partai meneriakkan yel-yel di sepanjang jalan protokol, Australia is not the place to be.

Pemilu di negeri koala ini tidak jor-joran, terkesan kalem bahkan. Mungkin ini salah satu karakter negeri di mana garis-garis demokrasi dengan tradisi bangsa Inggris menorehkan jejaknya cukup solid.

Partai politik di Australia jarang sekali mengadakan pertemuan akbar yang dihiasi oleh artis ibukota, seperti di RI. Ataupun konvensi politik, ala pemilu US, di stadium olahraga yang diisi oleh bos-bos perusahaan multinasional. Agenda kampanye Australia bisa dianggap membosankan, jika menggunakan barometer USA.

Yang sama adalah taktik image di media: leader yang berkunjung ke daerah-daerah terpencil dan menyambangi rumah sakit, leader partai politik berdialog dengan pemilik bisnis dan ibu-ibu rumah tangga di childcare centre. Dan tentu saja, yang tak boleh ketinggalan, foto cium baby di manapun mereka berkampanye.

Hari pemilu jatuh pada hari Sabtu: berbeda dengan kondisi RI di mana jalanan menjadi lengang dan kebanyakan karyawan libur, Sydney terlihat normal, bakery dan kafe di Circular Quay tetaplah ramai, feri menuju Manly hilir-mudik mengantar penumpang yang didominasi turis asing, downtown CBD (Central Business District) sebaliknya, mati.

Sialnya, saya mesti masuk kerja hari itu. Dan tidak ada dispensasi dari kantor. Business as usual, singkat kata.

Pada saat jam makan siang, bersama Karla, rekan asal Meksiko yang juga warga negara Australia, plus Joe rekan orang Australia, saya meluncur menuju public school terdekat. Tujuan: untuk mencoblos.

Jalanan ramai, kami harus menunggu di perempatan. Lampu merah terasa lama sekali, lampu hijau bagi pedestrian, sebalikknya, tak kunjung nyala. Jam makan siang kami cuma 60 menit!

Lucunya, nyoblos di sini bisa dilakukan di TPU manapun. Saya yang terdaftar di alamat lama, bisa mencoblos di TPU di distrik yang berbeda. Tak masalah, sepanjang masih di negara bagian yang sama (NSW/New South Wales). Jika kamu orang NSW berada di negara bagian lain, Queensland misalnya, kamu harus mendaftar ulang agar diizinkan mencoblos.

Karla: "Who are you going to vote, Joe?"
Joe: "Oh I am going to vote for Labor!"
Gama: "Me too."
Karla: "I am going to vote for the Greens, guys."

Kultur pemilu di Australia memang beda sekali. Di sini, orientasi politik sangat terbuka dan warga lokal tak menyembunyikan partai pilihan mereka. TOO EASY, Mate, seperti kata orang-orang Australia yang terkenal casual dan laid-back.

Karena nama kami bertiga tak terdata di daftar panitia, kami diarahkan ke meja yang lain. Antrean agak memanjang di sini, kira-kira 10 menit.

Oopps, giliran saya, perempuan panitia yang mengecek data saya seorang imigran Asia. Mungkin dia orang Filipina, dari aksennya.

Okay, saya menatap dua lembar kertas di tangan. Kertas kecil berwarna hijau untuk mencoblos partai politik lokal, kita harus memberi nomor dari 1-6 untuk senator lokal.

Lembar kertas berikutnya gigantis, panjannya mungkin sampai 1 meter, seperti pergamena saja. Padahal di kertas ini kita cuma memberi satu coretan saja. Di RI, kita mencontreng, orang Australia mencoret satu garis lurus vertikal di atas box pilihan.

Lipat kertas ke amplop. That's it. Saya sudah mencoblos, dan ini berarti negara tidak akan mendenda saya, saya lolos dari ancaman penjara. Ya, di Australia, mencoblos hukumnya wajib bagi setiap warganegera.

Semoga Labor menang!

maggio 16, 2010

Bikin Paspor

Kayaknya semua travel writer Indonesia pernah —dan mesti— nulis suka-duka bikin paspor. Oh ya, dokumen perjalanan ini emang indispensable, kudu punya, agar bisa jalan-jalan di teritori asing di muka bumi.


Pertama kali mengurus paspor, saya pake jasa agen. Dua belas tahun yang lalu. Sedikit detil yang teringat. Ortu yang membayar agen, tanda tangan formulir, duduk rapi di di kantor paspor, foto, antre lagi, pulang dengan dokumen ajaib itu dengan harapan agar bisa digunakan secepat mungkin. Si kura-kura mau keluar dari tempurungnya.

Paspor kedua, lebih simpel, isi formulir, kirim ke konsulat RI. Seminggu kemudian, paspor jadi. Total biaya: AU$85, ongkos transportasi ditanggung oleh Jim, housemate pengangguran yang berbaik hati jadi sopir menuju konsulat RI.

Itu paspor RI. Gimana sih perkara mengurus paspor di negara lain? Mari menengok di negeri tetangga, mungkin ada satu-dua hal yang bisa kita pelajari.

Contoh simpel, tetangga bule kita, yakni negeri commonwealth Australia (AUS). Kebetulan saya punya pengalaman segar.

AUS memberikan paspor kepada warganegaranya, atau kepada individu yang salah satu orang tuanya warganegara Australia.

Birokrasi di sini memang jauh lebih ringkas dan nggak ada tetek-bengek tumpukan map manila yang kucel di ruang antre dengan tivi 14 inch menyiarkan sinetron putar ulang.

Ya, formulir masih harus diisi, tapi tidak perlu antre, dan tidak ada praktek «uang amplop» atau calo berkeliaran di gerbang kantor departemen imigrasi.

Paspor di Australia bisa dibikin di kantor pos. Apa?! Kantor pos, tempat jual prangko itu? Ya, mungkin alasannya, negeri-benua ini terlalu luas, kalau kamu tinggal di padang pasir merah, susah dan mahal mau ke kota cuma untuk bikin dokumen.

Barangkali ini bisa jadi satu 'pelajaran' buat negeri RI. Di negeri kepulauan RI kan banyak penduduk tinggal di daerah dan zona terpencil. Kalau mereka bisa bikin paspor di kantor pos terdekat, bukankah itu ide bagus?

Ok, formulir paspor simpel. Isi semua data dan tunjukkan bukti kamu berhak menyandang paspor beremblem kangguru dan emu ini. That's it!

Saya menyertakan dokumen naturalisasi, alias kewarganegaraan yang diberikan oleh pemerintah. Plus 2 buat foto, foto harus berukuran 4x6. Tanpa senyum, rambut awut-awutan. Mereka tak peduli, pas foto harus sesuai aturan mereka yang strict. Salah satu foto juga harus digaransi, alias ditulis. Sang garantor haruslah seorang warganegara Australia yang tak punya hubungan darah, mengenalmu minimum 12 bulan, dan rela menjadi garantor.

Serahkan formulir lengkap kepada pak pos (atau ibu pos), bukti dokumen identitas (SIM, rekening, kartu kredit) dan foto. Ongkos, A$210. Dengan menambah A$70, ada servis ekspress, 4 hari kerja jadi! Paspor akan dikirim ke rumahmu dengan surat tercatat, agar nggak hilang di jalan.

Total waktu proses, 30 menit, sudah termasuk mengantre di depan loket! Dan saya, sang imigran, tersenyum lega.

aprile 21, 2010

Thou shalt join the coffee cult


Don't want to be taken for a tourist? Then don't be heard ordering a latte after lunch, writes Lee Marshall.

I once met an Italian who didn't drink coffee. He made light of the fact but you could see he was tired of having to explain his disability every time some new acquaintance uttered the standard Italian greeting: "Prendiamo un caffe?" ("Fancy a coffee?"). His breezy but faintly passive-aggressive manner concealed, I suspect, deep pools of self-doubt and underground lakes of wounded masculine pride. Vegetarians develop the same nonchalant, yet haunted, look when travelling in places such as Mongolia, where meat comes with a side-dish of meat. But this Italian guy wasn't a visitor, he was local. He was the Mongolian vegetarian.

Coffee is so much a part of Italian culture, the idea of not drinking it is as foreign as the idea of having to explain its rituals. These rituals are set in stone and not always easy for outsiders to understand. As in any self-respecting cult, they are made deliberately hard to comprehend, so that the initiated can recognise each other over the bar counter without the need for a curious handshake (which would only lead to stubborn cappuccino stains).

Some might object that the Italian coffee cult is now a worldwide church with branches in London, Dubai and Bora Bora. But while the Arabica coffee blend is often perfect, the cups just the right size and shape, the machines as "Made in Italy" as they come, Italian coffee bars outside Italy almost always adapt to the host culture - just like the vast majority of Chinese restaurants outside China. If you take your cue from your local high-street espresso purveyor, you risk straying from the True Path on arrival in Italy.

Here, then, for those who fancy going native in true Lorenzo of Arabica style, are the Ten Commandments of Il Culto del Caffe.

1 Thou shalt drink only cappuccino, caffe latte, latte macchiato or any milky form of coffee in the morning - and never after a meal. Italians cringe at the thought of all that hot milk hitting a full stomach. An American friend who has lived in Rome for many years continues, knowingly, to break this rule. But she has learnt, at least, to apologise to the barista.

2 Thou shalt not muck around with coffee. Requesting a mint frappuccino in Italy is like asking for a single-malt whisky and lemonade with a swizzle stick in a Glasgow pub. There are but one or two regional exceptions that have the blessing of the general coffee synod. In Naples, you can order un caffe alla nocciola - a frothy espresso with hazelnut cream. In Milan, impress the locals by asking for un marocchino, a sort of upside-down cappuccino, served in a small glass and sprinkled with cocoa powder, hit with a blob of frothed milk, then spiked with a shot of espresso.

3 Which reminds me, thou shalt not use the word espresso. This a technical term in Italian, not an everyday one. Espresso is the default setting and single is the default dose; a single espresso is simply known as un caffe.

4 Thou can order un caffe doppio (a double espresso) if thou likest but be aware that this is not an Italian habit. Italians do drink a lot of coffee but they do so in small, steady doses.

5 Thou shalt head confidently for the bar, call out thine order, even if the barista has his back to you, and pay afterwards at the till.

6 If it's an airport or station bar or a tourist place where the barista screams "ticket" at thee, thou shalt, if thou can bear the ignominy, pay before thou consumest.

7 Thou shalt not sit down unless thou hast a very good reason. Coffee is a pleasurable drug, but a drug nevertheless, and should be downed in one, standing. Would thou sit down at a pavement table to take thy daily Viagra?

8 Thou shouldst expect thy coffee to arrive at a temperature at which it can be downed immediately as per the previous commandment. If thou preferest burning thy lips and tongue or blowing the froth off thy cappuccino in a vain attempt to cool it down, thou shouldst ask for un caffe bollente.

9 Thou shall be allowed the following variations, and these only, from the Holy Trinity of caffe, cappuccino and caffe latte: caffe macchiato or latte macchiato - an espresso with a dash of milk or a hot milk with a dash of coffee (remember, mornings only); caffe corretto: the Italian builder's early-morning pick-me-up, an espresso "corrected" with a slug of brandy or grappa; and caffe freddo or cappuccino freddo (iced espresso or cappuccino) - but beware, this usually comes pre-sugared. Thou mayst also ask for un caffe lungo or un caffe ristretto if thou desirest more or less water in thine espresso.

10 Anything else you may have heard is heresy.

marzo 30, 2010

Fotografia

Aku lagi gemar menggeluti fotografi, nulis jadi agak terabaikan.

Fotografi itu bikin orang kecanduan!


Kebetulan kemarin lalu, aku diminta motoin wedding temen.

Dan ini bebarapa hasilnya





febbraio 17, 2010

Pizza 1 Meter, Perugia, Italia



Ini dia pizza 1 meter di Pizzeria Etruschetto Perugia !


Yum yum!

gennaio 31, 2010

on the prowl

Life feels like a Thai mango salad wrapped in a leaf. You are drooling over it and strangely it awaits you to make a move.

A quick recap:

1. November 2009, aku ngehost 2 travellers www.couchsurfing.org - Piergiorgio dan Emanuelle. Emanuelle seorang dokter gigi asal Prancis yang nekat melepas kemapanan demi bisa menggerus ban mobil sepanjang padang pasir dan Outbank Australia.

Piergiorgio lebih ekstrim lagi. Arsitek asal Treviso (dekat kota Venice) nekat keliling dunia seiring putaran jarum jam, selama 2 tahun. Dari Italy, dia sudah berganti puluhan alat transportasi, mengoleksi visa negara-negara eksotik, dari Eropa, Timur Tengah, India, Asia, Australia, America Selatan.

Dan dia masih on the road sampai akhir tahun ini.

Kameranya hilang. Tak masalah, bisa diganti. Harga tiket mahal. No problem, dia membeli tiket rute alternatif dan turun di kota transit sambil mengemis kepada check-in chicks, dia harus mengantar botol wine pada temannya!

Ini dia website Piergiorgio.

http://www.traversin.org/ (foto dan ceritanya keren-keren, euy! Sumpah.)

2. Januari 2010, dua teman dari Italia datang. Claudia dan Matteo. Terakhir kali aku lihat mereka, musim dingin Desember 2006. Kami makan enak di dapur Matteo. Claudia juga ngebantuin anak-anak Indonesia yang sempat masalah dengan beasiswa. Gadis Sicilia ini lalu melanjutkan master di kota Padova, di Utara Italia. Lalu sempat intership di Denmark.

Matteo, psikiater kita ini ingin melihat dunia - walaupun dia sudah pernah menginjak kaki ke banyak tempat, Meksiko, Maldives!

Matteo juga mau belajar bahasa Inggris. Mau bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Mau memulai dari awal. Sebelum the big 30 -alias kue ulang tahun 30 dipotong.

Bahasa Inggris Matteo nggak fasih. No prob. Dia bertekad belajar on the street (of Melbourne).

Claudia juga punya a wish. Bisa surfing.

... hola, ketemu mereka bikin aku berpikir. Apa project yang harus aku capai sebelum usia 30...

dicembre 22, 2009

Macchina e Chiesa



Macchina e Chiesa

dicembre 17, 2009

Peri Calcata / Tabloid Aplaus

Edisi 114 > Fokus > Setapak > Peri Calcata (Italia)


PERI CALCATA - Lazio, Roma, Italia


Jalan-jalan akhir pekan yang unik selalu dicari. Tak beda untuk mereka yang kebetulan tinggal di kota Roma. Ibukota Italia ini juga dikepung oleh desa-desa medieval yang menggoda untuk dikunjungi. Belum lagi janji makanan khas Romana. Semua ini ditemukan di Calcata.

MUSIM semi mengetuk tak sabar pintu-pintu rumah di Italia. Kebetulan Sylvain, sahabat saya yang tinggal di kota Nice, Perancis, datang ke Roma dalam rangka liburan. Ide brillian saya adalah menciptakan weekend“alla romana”. Maka itu, saya minta pada Francesco, seorang teman yang warga asli Roma, untuk memilih satu lokasi di Lazio di hari Sabtu yang cerah ini.

Kami meluncur ke arah dataran tinggi di daerah utara Lazio. Lucunya, sepanjang jalan tol S.S. 2, yang lebih dikenal sebagai jalan antik Via Cassia pada era Kekaisaran Romawi, tak satupun
amfiteater terlihat. Namun, pamer paha dan dada semok melimpah-ruah.

“Gadis-gadis ini
lucciole,” ucap Francesco yang menjadi guide lokal. Dalam bahasa gaul, luccioleartinya PSK alias Pekerja Seks Komersial. Perempuan-perempuan di sepanjang via Cassia ini sepertinya berasal dari Eropa Timur. Mereka masih belia; tak sampai 20 tahunan.

Bagi sebagian orang, prostitusi memang cara mudah mencari uang atau untuk sekadar bertahan hidup. Setelah kabur dari negaranya demi mencari kehidupan yang lebih baik, ataupun melarikan diri dari kerasnya realitas sisa-sisa kehidupan sosialisme-komunisme, mereka harus bisa “bergerilya” agar bisa hidup di Eropa Barat.

Mungkin melihat perempuan yang memamerkan bagian-bagian tubuh membuat jengah kebanyakan orang. Namun, hal ini tak berlaku di negeri Italia yang notabene sangat Katolik. Italia memang penuh realitas paradoksal.

Negeri berbentuk sepatu bot ini punya hukum antiprostitusi yang gahar dan bergaya
in your face. Kamera pengintai kini menjadi pengawas libido warga Roma di sudut-sudut strategis di kota yang terkenal dengan hidangan khas pasta carbonara ini. Polisi dan carabieneri (polisi sipil-militer Italia) juga sering berpatroli, serta tak segan mengeluarkan denda on the spot pada pengguna jasa seks pinggir jalan.

Persatuan PSK—oh ya, jangan salah, mereka punya sindikat pekerja!—tak mau kalah sebelum bertarung. Mereka berkampanye di pelbagai kota menuntut “hak” mereka untuk menjalankan profesi tertua di dunia yang mereka geluti. Mereka tak sekadar bergerilya di jalan, namun juga siap membayar tilang agar pelanggan setia tak segan menggunakan jasa mereka.

Skyline abad pertengahan Calcata
Kami baru saja menempuh 40 km. Mobil Fiat yang kami tumpangi perlahan mendaki jalan dua ruas yang begitu sempit, tak cukup lebar untuk menampung mobil-mobil berplat RM (Roma) yang diparkir ilegal di bahu jalan.

Akhirnya! Skyline abad pertengahan Calcata muncul dengan spektakuler, menyuruh siapa pun segera melintasi gerbang kotanya. Tempat ini sepertinya punya banyak “cerita”, terlihat jelas dari pucuk-pucuk
parapet (tembok pertahanan yang umumnya ditemukan pada sebuah benteng atau kastil) benteng kota yang meruncing layaknya ekor burung walet menandakan desa ini dulu mendukung kubu Ghibellin, alias pendukung Kekaisaran Suci Romawi di abad ke-12 dan 13.

Calcata ialah tempat yang kita pikir nyata hanya di cerita-cerita fantasi atau di dunia dongeng yang dipenuhi peri dan kurcaci. Mencuat di atas karang bebatuan
tuff (abu vulkanis yang mengeras), Calcata adalah satu dari sejumlah desa abad pertengahan di daerah Lazio.

Namun, di balik atap
terracotta dan tajamnya puncak menara-menara medieval di sini, desa ini ternyata berasal-usul suku Falisci. Sama seperti nasib suku-suku kecil yang bertebaran di sepanjang jazirah Italia, suku misterius Falisci sempat berperang dengan kota Roma sebelum akhirnya ditaklukkan oleh ketangguhan prajurit Romawi. Semua ini terjadi dua setengah abad sebelum lahirnya Kristus.

Parkir mobil diperbolehkan hanya di bagian luar dinding kota yang berusia ratusan tahun. Melewati gerbang Romawi yang menjulang tinggi dan terbuat dari susunan batu-batu raksasa, kami dan para pengunjung desa ini juga harus melalui serangkaian lorong-lorong suram tipikal abad pertengahan. Sinar matahari yang panas tak kuasa menerobos sejuknya dinding kota yang berlumut.

Piazza Vittorio Emanuele II
Kami sampai di Piazza Vittorio Emanuele II yang terlalu luas namun penuh aktivitas. Anak-anak kecil berkejar-kejaran, sementara orang tua mereka terpaku mengagumi pengamen jalanan yang berpenampilan elegan dan tekun melantukan tembang klasik melalui akordeon. Alun-alun utama desa ramai oleh pengunjung yang kebanyakan didominasi oleh orang Italia. Ya, tempat ini tak bisa ditemukan di buku guide ataupun peta turis pada umumnya.

Banyak orang tak tahu betapa “pentingnya” Calcata dalam sejarah Kristianitas. Menurut legenda, pada tahun 1527 Calcata sempat menjadi tempat disembunyikannya sebuah relik penting bagi umat Katolik. Alkisah, seorang prajurit bayaran mencuri relik suci dari gereja Vatikan, untuk kemudian disembunyikan di Calcata. Relik yang dimaksud adalah “Holy Prepuce” alias serpihan kulup (
foreskin) yang kabarnya berasal dari sunatan Kristus. Oh ya, fantasi orang-orang zaman dulu memang bisa dikatakan hebat.

Terlepas dari benar atau tidaknya legenda itu, Calcata kini menjadi tempat favorit tujuan berakhir pekan. Di sini semua terasa rileks. Calcata mungil sekali. Tak heran–dan mau tak mau–berjalan kaki ialah satu-satunya cara menjelajah. Di dalam desa terlihat sedikit sekali kendaraan beroda. Sebagai gantinya, galeri seni dan
atelier (workshop artis.) mengintip di setiap sudut. Sabar dulu, semua ini ada penjelasannya.

Di Lazio, Calcata ialah satu dari sejumlah desa yang “ambruk”. Ambruk dalam pengertian tak ada aktivitas ekonomi yang bisa menunjang pertumbuhan desa. Akibatnya, bedol desa: penduduk terpaksa pindah ke kota untuk mencari pekerjaan.

Pada era Fasis di awal abad ke-20, pemindahan penduduk bahkan dilakukan secara paksa. Hingga tahun 1960-an, Calcata masih seratus persen “feodal”, dinding kota yang dibangun di abad ke-12 meredam laju modernitas. Di tahun 90-an, tempat ini menjelma menjadi pusat budaya. Artis-artis
hippies masuk ke Calcatta, dan orang-orang asing membeli properti di sini dengan harga sangat murah. Untungnya, kebanyakan bangunan di sini masih terlihat kokoh dan terawat.

Kusen dan pintu restoran di Calcata tampak segar, baru dicat, sedangkan jendela rumah makan terlihat transparan, memamerkan pelayan yang berlalu-lalang mengantar hidangan yang mengundang nafsu makan.

La Fata del Borgo
Kami memang tiba di Calcata agak sore. Jam makan siang sudah lewat, namun perut keroncongan memaksa kami segera mencari pengganjal perut. Dengan adanya orang Perancis dan Italia di rombongan ini, mau tak mau kami mencari restoran yang bisa memuaskan lidah Eropa yang
sophisticated.



Kami duduk di teras restoran yang nangkring di tepi jurang. La Fata del Borgo, alias rumah makan “Peri Dusun” ini
fully booked. Meskipun sudah mem-booking, kami masih harus menunggu di antrean.

Setengah jam kemudian barulah kami mendapat meja. Para pelayan mondar-mandir tanpa berhenti sekalipun di meja kami. Rasa lapar kami tahan dengan ngobrol ditemani
grisisini, roti gurih tipikal Italia, sambil menikmati panorama deretan pinus Meditarania yang tumbuh liar di antara tebing-tebing curam.

Restoran ini sungguh luar biasa ramai. Dua pelayan tak sanggup menangani rasa lapar puluhan warga Roma. Sejam sudah terlewati, belum ada tanda-tanda pesanan kami. Kami kembali meminta pelayan bergegas. Sylvain mengerutkan dahinya, dia memang tak terbiasa dengan pelayaanan di Italia yang jauh dari kata efisien.

Ah, akhirnya hidangan kami datang! Pasta Carbonara. Belum sempat kami bilang
buon appetito, alias selamat makan, “Wrong dish,” ucap Sylvain. Astaga, pelayan salah meja. Pasta carbonaraternyata pesanan meja sebelah. Insiden ini terulang dua kali. Sialnya, selalu Sylvain yang menjadi korban. Kali ini pelayan yang berbeda menyodori pasta All’amatriciana.

Hari menjelang sore, kami mengelus perut. Koki restoran La Fata del Borgo keluar dari dapur. Asap rokok yang ia embuskan seakan berusaha menghapus stres yang tertera jelas di raut mukanya. Ia mendatangi para pengunjung yang tersisa, meja demi meja. Ini memang kebiasaan para koki yang ingin cari tahu kepuasan pelanggan. Akhirnya, dia tiba di meja kami. Dari aksennya,
chef perempuan ini berasal dari Amerika Selatan. Ia berkali-kali meminta maaf. Alasannya, hari itu mereka kekurangan staf. Sebagai permintaan maaf, dia menawarkan tiramisu on the house.

Dengan deg-degan kami menikmati. Melirik ke arah Sylvain, saya waswas, Sylvain pasti kecewa dengan pengalaman ini. Ini kali pertamanya dia mengunjungi Italia dan sejauh ini Italia pastilah memberikan kesan “negara dunia ketiga”. Apalagi urusan perut, orang Perancis kan terkenal
fussy soal makanan.

Ah, kami terselamatkan. Sylvain cukup puas dengan sajian utama yang ia pesan. Kami tersenyum girang. Psst, Sylvain tidak tahu polenta con carne, alias sop jagung mais dengan daging, bukan makanan khas Lazio, melainkan daerah Utara Italia. Tak apalah, yang penting Asal Teman Senang.

Opera Bosco Museo d’Arte nella Natura
Tiramisu dan Limoncello (
liqueur khas Italia, terbuat dari lemon) diantar langsung oleh sang koki. “Buono—Enak,” komentar Sylvain pada sang koki. Kami berkali-kali berterimakasih. Ya, ya, kadang basa-basi diperlukan agar koki wanita ini tak tersinggung. Profesi yang ia sandang cukup mulia, mengenyangkan banyak orang sekaligus membuat lidah mengecap puas.

Matahari sore menebar rona jingganya. Ah tempat ini, Calcata, benar-benar membuat kita seperti anak kecil yang ingin bermain-main sepanjang hari. Kami berjalan-jalan sambil keluar masuk galeri seni. Di beberapa sudut, kepulan kacang walnut yang dibakar menyengat mata sekaligus menimbulkan air liur.



Keluar sedikit dari Calcata, kami langsung berada di tengah daerah pedesaan denga jalan setapak berlumpur, rumput ilalang setinggi lutut dan, tentu saja, lolongan anjing penjaga rumah petani.

Tak lama kami tiba di sebuah tempat yang unik. Mereka menyebutnya Opera Bosco Museo d’Arte nella Natura. Museum ini unik dan memberi sensasi berbeda dari museum-museum kebanyakan. Semua karya seni terbuat dari bebatuan, ranting dan batang kayu. Bentuk-bentuk hewan dan aktivitas sehari-hari (bangku, meja dan perahu nelayan) mendominasi, mengingatkan natur manusia yang memang selalu ingin kembali ke alam setelah lelah akan keseharian di kota.

Guide To Calcatta

How to get there
Transportasi publik tidak disarankan sebab hanya beroperasi di musim panas. Sangat disarankan berkendaraan pribadi, dari Roma, ambil jalan tol S.S. 2 (Via Cassia) dan ikuti rambu saja. Seperti kata pepatah, ‘Ada Banyak Jalan Ke Roma’, jadi kamu punya banyak jalur transportasi ke sana, tetapi umumnya, bisa dengan rute Medan/Jakarta-Singapura/KL-Roma dengan lama perjalanan 12 jam. Sekadar info saja, waktu setempat di Roma 6 jam lebih awal dari Waktu Indonesia Barat.

When to go
Hindari musim dingin dan bulan Agustus di Italia. May-Juni, Calcata tempat alternatif “off the beaten track” setelah puas mengunjungi Roma.

What to do
Calcata adalah tempat melepas kepenatan bagi warga Roma. Di Calcata, ikuti kata hatimu, jelajahi sudut-sudut dunia yang hilang ini dengan santai. Masuk ke galeri tanpa nama dan berbincang dengan artis atau pemilik galeri.

What to eat
Restoran di Calcata selalu penuh pada saat weekend di musim panas. Sebelum memesan, minta saran apa
menu of the day atau speciality daerah Lazio yang diandalkan oleh restoran.

Profil Penulis
Gama melukiskan
passion untuk negeri Pasta, Italia, melalui tulisan dan jepretan tustelnya. Selain kerja penuh waktu, ia menulis lepas untuk harian the Jakarta Post. Buku pertamanya “Ciao Italia!”, terbitan GagasMedia, tersedia di toko buku terdekat.


dicembre 03, 2009

Natalan di Venice, Yuk!

Pernah ngebayangin ngerayain Natalan —yes, European Christmas— di kota cantik seperti... err, Venice?


Sedihnya, Venice kali ini harus melewatkan Natal yang agak "basah", kota ini terendam oleh air laut.

Tapi... Tetep aja terkesan romantis, kok. Ya, nggak sih?







novembre 28, 2009

8 Langkah Menjadi Penulis «Travel»


8 Langkah Menjadi Penulis «Travel»
Gama Harjono / www.unmacchiato.blogspot.com
Penulis GagasMedia, penulis freelance JakartaPost

Senang menulis, sudah atau ingin menerbitkan tulisanmu? Hobi jalan-jalan, bertualang dan menjelajah tempat baru. Perfect. Gabungkan keduanya et voilà, seorang travel writer lahir dari dirimu. Kebanyakan dari kita bukanlah Triniti si Wanita Backpackacker Indonesia pertama, yang bisa membuat siapapun yang membaca tulisannya langsung ingin menyambangi lokasi-lokasi eksotis tersebut.

Menjadi travel writer adalah profesi yang diirikan banyak orang. Penulis travel yang terkenal bukan saja mendapat diskon di hotel-hotel untuk review, tetapi juga sponsor dari perusahan-perusahaan, airlines, resorts, bahkan tiket business class dari pemerintahan asing yang ingin mempromosikan pariwisata mereka.

Resep dasar seorang calon travel writer ialah rajin baca artikel perjalanan di media cetak. Setiap penulis punya gaya masing-masing. Setiap tempat punya cerita menarik. Kembangkan idea yang ada, gali sudut-sudut baru. Buat kisah biasa menjadi luar biasa, tanpa melebih-lebihkan. Ubah kisah klise menjadi cerita cerdas nan cantik.

1. Keep a diary. Bisa diari klasik, alias buku tulis bergaris, atau blog. Yang penting rajin "merekam" kejadian-kejadian. Misalnya, ... «
Gila euy, pesta kepulangan Alan dari Rusia keren banget. Meskipun alamat udah di tangan, tapi ternyata nggak gampang menemukan tempatnya yang tersembunyi. Aku ke sana bareng Adit dan Senja. Yah, enakan ada teman, buat jaga-jaga kalo party ternyata boring. Eeeuh, jauh banget dari kesan boring... Lokasi Porta Sole, yang jauh tinggi di puncak bukit tetapi begitu misterius. Kita nelpon Alan berkali-kali, dia bilang ikuti saja lilin-lilin yang menyala. Dan emang banyak lilin yang menyala sepanjang ratusan anak tangga itu. Party yang menyenangkan. Tempatnya sejuk, banyak daun-daun pepohonan bouganville. Bulan purnama menerangi kebun di lereng bukit... »

2. Poin pertama di atas merekam banyak detil-detil. Deskripsi tempat, ambience, atmosfir sungguh esensial untuk berhasil membawa pembaca seakan berada di tempat tersebut.

3. Data. Seorang penulis travel harus rajin mencari data. Sebelum. Ketika. Sesudah perjalanan. Rajin membaca, tulis poin-poin yang ingin di-eksplore, tema, misalnya "Gereja-Mesjid di Sisilia" atau "Biennale Sydney".

Nyari suvenir dan oleh-oleh penting. Dan sah-sah aja. Tetapi jangan lupa bahwa travel writer punya "tujuan" khusus. Yakni mengenal baik destinasi agar bisa di-share kepada orang lain yang belum pernah ke sana.

Kata editor senior GagasMedia, Windy, "jadilah mata dan telinga buat calon pembaca". Tip yang oke banget. Bisa juga jadi telinga jika hobi upload video di youtube dan siapa tahu kamu jadi kandidat berikut di kompetisi Gawe Paling Mantep Sedunia, alias "The World's Best Job".

4. Kenali orang-orang lokal. Locals give you insider perspectives and insights. Ngobrol dengan mereka. Tanya apa yang mereka lakukan untuk rileks di kota/desa mereka tinggal? Apa makanan spesial mereka?

Dan ini membawa kita menuju wisata kuliner. Okay, lupakan Pak Bondan yang mencicipi goulash di Hungaria, atau menyisip wine Beaujolais di Dijon. Sebagai wartawan kuliner amatir, kita bisa menyusuri restoran lokal yang tidak bikin jebol kantong. Gimana kalau kita mengilik Tourte de Blette, kue lezat seharga 2 Euro per piece yang hanya bisa ditemukan di kota Nice.

5. Jelajahi tempat-tempat tak biasa. Paris? Ya, ya, kebanyakan orang mau bertamasya di Paris, piknik di tepian sungai Seine di hari Minggu yang cerah. Tapi itu biasa, jutaan orang menginjak kaki di Paris setiap tahunnya. Coba, misalnya, "mencari jejak Ksatria Templar di Valetta, Malta" terdengar unik dan mengundang banyak tanda tanya, bukan?

Kalau kita harus mengulas daerah yang populer. Singapura, misalnya, di mana jutaan warga Indonesia berakhir pekan. Kita bisa mencari sudut yang menarik. "Singapore sling, the Real One" sambil berleha-leha di sore hari. Bisa jadi ide yang unik, kan?

6. Foto. Kurangi foto narsis snapshot, pelajari teknik travelling photography. Kualitas harus prima. Ingat, kita memoto untuk jutaan calon pembaca, bukan cuma buat kawan-kawan dan keluarga, atau sekadar untuk dipameri dan dikomentari di Fesbuk.

7. Untuk menembus surat kabar berbahasa asing nggak gampang. Tapi nggak mustahil. Dalam hal ini, tentu saja kemampuan berbahasa jadi aset utama, bahasa Inggris kita harus bersih dari grammar error. Siapkan tulisan 1000-1500 kata, simpan di file Word, sertakan foto berukuran kecil di attachment, dan kirim ke Redaksi. Mereka pasti akan menghubungimu kalau artikelmu dianggap menarik. Redaksi juga akan mengedit dan menyempurnakan tulisan sebelum diterbitkan. Honornya, lumayan.

8. Fokus kepada pembaca. Siapa? Apa latar belakang mereka? Apa yang mereka cari? Menulis buku dengan target remaja dan mahasiswa kita bisa lebih lugas dan agak ngegaul. Gue, elo, bisa dipakai. Kita bisa nyelengeh sedikit dengan fokus "fun", misalnya, tetap diutamakan.

Nulis di majalah beda lagi. Di sini, kaidah berbahasa lebih strict, pembaca pun spesifik, CLEO, pembaca bisa dipastikan cewek up to 25. Maka, kita bisa mengupas perjalanan "seksi", misalnya nudist beach.

Nah, koran cetak karena eksposur dan jangkauannya luas dan dibaca oleh keluarga, tone yang kita terapkan jadi agak umum dan PG+13. Misalnya, fitur kota Avignon atau kota Aix-en-Provence. Apa aja sih menarik di kota itu? Kita bisa sisipkan tips umum, juga. Misalnya, restoran ramah-bujet di tengah kota.

ps. Avignon terkenal dengan Istana Sri Paus (le Palais des Papes) sedang Aix terkenal dengan kolam-kolam air mancur dan gaya hidup Provence!

Semoga bermanfaat dan ingat, jadilah "mata" dan "indera" bagi calon pembacamu! Selamat menjadi travel writer.

novembre 07, 2009

Penjual sayur dan buah di Spanyol



Penjual sayur dan buah di Spanyol

ottobre 31, 2009

Apartemen Merah, Granada



Apartemen Merah
Granada, Spanyol

ottobre 16, 2009

Granada, Spain/Spanyol/Spagna/Espagne



Gran via de Colon, Granada

ottobre 11, 2009

Alhambra, Granada, Spanyol


Information chick, Alhambra, Spain: "Sorry, no hablo italiano. Do you speak English?"