aprile 21, 2008

Fly with us, not them!

Gue kemaren terbang antar benua via Singapura.

Dan saudara-saudara, ternyata Garuda bukan cuma dianggap maskapai kelas teri di Eropa saja, tapi di Changi juga. Buktinya penumpang turun (hanya) dari Garuda, di screen lagi. Gue ampe lepas laptop dari sarung, dikit lagi check pakaian dalam dah. Berarti security screening di JKT sia-sia dan dianggap sampah, dong? Not cool!


Connecting flight dengan Qantas, whoaah... disergap bau keju! ... tahan napas sejenak. Suffocation.
Baunya kaya keju mozzarella australia. Bau sama keju tapi... something didn't feel right. Eheh, ternyata flight attendants Qantas itu tua-tua, yang paling muda aja 40an dan yang ngelayanin kelas ekonomi... waks, ibu2 60 taonan, yang kulit lehernya menjuntai dan bau orang tua. Beda banget dg attendants airlines Arab, eg. Etihad, 20an semua, kulit kenceng dan senyum lebar.

Moral cerita: fly Etihad, not Qantas.

aprile 12, 2008

un paio di cose

Gue punya problem komunikasi.

Not so much at work or elsewhere.

Tapi di rumah. Dengan keluarga, how crap is that?

Ada satu revelasi lagi.

Antara tahun 2006-2007, gue melewati waktu di tiga negara berbeda, masing-masing di benua yang berbeda. Capek. Melelahkan.

Maka, gue tiba pada kesimpulan: gue harus abandon harapan untuk melewati musim panas eternal, di dua tempat yang berbeda per enam bulan sekali.

Terlalu melelahkan. Dan secara finansial kompleks banget, kecuali kamu Managing Director CLUBMED.

Kembali ke problem rumah-tangga. Iyah, ngga ngerti kenapa, tapi dengan bonyok, susah banget gue nyampein pikiran gue. Pangkal permasalahannya banyak dan bukan semua salah mereka, atau salah gue.

Satu yang paling obvious, beda generasi beda pemikiran.

Gue bilang, iyah minggu depan gue mau ke xxxxxxx.
Nyokap gue: emang boleh liburan selama itu dari kantor?
Gue: ngga, makanya saya berenti kerja.

Bagi nyokap gue, itu ngga masuk akal. Berenti dari satu job, tanpa punya job back-up itu ridiculous. Absurd, bahkan?

Tapi ngga buat gue dan generasi gue. Kayanya mereka yang lahir di tahun 80an, mereka bukan mencari uang saja. Duit emang penting tapi kepuasan juga. And a something extra, berbeda-beda untuk setiap orangnya.

Imbalan gaji bagi gue sekonder, yang penting gue bisa belajar sesuatu dari tempat kerja itu. Dan saat ini gue merasa gue udah mempelajari sesuatu dari tempat kerja saat ini, pusat kebudayaan eropa.

Dan gue butuh break, liburan, vacation, call it as you wish, karena gue merasa selama ini gue udah bekerja keras tanpa jeda dan benar-benar produktif. Tulisan, artikel surat kabar (salah satu yang paling terkemuka di negeri ini), buku non-fiksi bahkan. Semua dalam tempo sembilan bulan. Gue ngga tau apakah gue harus puas. Tapi itu udah gue max. Dan sekarang gue mau tinggal di satu tempat di tepi pantai. Tak berpolusi, tenang, kamar mandi kering, aroma garam dan rumput laut di pagi hari, dan civilisation.

Buat bonyok gue, ide liburan seperti itu tampak seperti "a waste" sesuatu yang sia-sia.

Ngga bisa disalahkan juga. Dari mereka muda, bekerja keras non stop emang mereka lakukan. Hingga sekarang.

Tapi bisakah nilai-nilai mereka diterapkan kepada anak-anaknya?

Voglio essere felice e basta. I seek happiness.