Couple showing defiance at Church
Couple showing defiance in fully functional Catholic church of Pantheon
Couple showing defiance in fully functional Catholic church of Pantheon
Posted by
CIAO ITALIA!
at
4:34 PM
0
comments
Labels: quotidianeità

DI Italia sering kali kita temukan penjual buku bekas di piazza-piazza. Bukunya bervariasi, ada yang bertopik menanam bunga mawar, sejarah Fascisme, sampai fiksi.
Harganya itu loh, menggoda. Murah banget.
Gue pernah dapet yang satu buku cuma satu Euro.
Di foto milik temen gue ini (Q!) buku-buku itu dilego per dua Euro.
Bikin orang nggak tahan nggak beli, kan?
Bacanya asik, nafsu "dapet bargain" udah sampe ke ubun-ubun ... tapi ntar bawa pulangnya REPOT.
Sumpah, sekarang airlines makin ketat.
Gue pernah "menumpang" Emirates dan maks. 20 kg diberlakukan dengan semena-mena. Kejam nian, dia kaga peduli elo student atau stock broker.
Para mahasiswa RI yang suka baca, ingatlah kapasitas airlines sebelum kalian menumpuk buku hingga 10 kg — waks, ini sih gue... beli bukunya taon lalu, dampak repotnya masih sampe sekarang.
Yeah, buku-buku yang gue beli di Itali 2006-2007 masih ada dan menunggu dibaca.
Oufff...
Posted by
CIAO ITALIA!
at
1:45 AM
2
comments
Labels: quotidianeità
Usai rilis dan launching CIAO ITALIA! —dan juga promo buku tersebut— surprisingly gue masih punya waktu luang meskipun sebenarnya gue lumayan sibuk ngambil job-job kecil di sana-sini.
Gue sering maen-maen ke Institut Kebudayaan Italia, yang dikenal oleh warga Jakarta dengan inisialnya: IIC. Letaknya di Menteng.
Gue biasanya dateng untuk make internetnya — yes, di meja gue yang lama, yang sampai sekarang masih kosong. Itu meja yang paling bagus sebenernya di kantor sekretariat.
Gue tengah asyik browsing. Tiba-tiba ada interupsi dari staf paling senior di kantor tersebut, ibu Laila, yang tampak gundah gulana. Rupanya dia sedang ngerjain terjemahan artikel dan butuh informasi urgent dari Gianni, satu dari dua staf IIC yang tulen orang Italia. Gianni jago berbahasa Indonesia.
Laila: “Gianni, apa bahasa Italia untuk tempat di mana prostitusi ditangkap dan direhabilitasi. Apa bahasa Itali untuk panti rehabilitasi?”
Gianni (wajah kaget, mata terbelalak): “Ha? Laila, kenapa kamu nanya hal ini? Di Italia, nggak ada tempat seperti itu. Prostitusi yang ketangkap biasanya cuma menginap semalam di kantor polisi lalu dilepas lagi. Nggak ada panti.”
Laila: “Jadi apa yang aku tulis untuk terjemahan artikel ini?”
Gianni: “Nggak tau!” Lalu Gianni mulai cerita mengenai tren baru di negeri Pasta sana, yakni para transvestite Brasil she-male yang operasi plastiknya ‘bagus sekali’.
Perhatian kami tersedot, kuping kami berdiri menangkap setiap informasi akan bisnis cinta di Italia, yang ilegal namun eksis dan semarak setiap malamnya. Penjaja cinta dihina-dina namun dibutuhkan. Di kota-kota besar Italia, seringkali polisi dan carabinieri (polisi militer) melakukan operasi di ruas-ruas jalan yang “hot”.
Edwin (staf pendidikan): “Gianni, quanto paghi di solito?”; Oke, Edwin sebenarnya bermaksud berapa “berapa bayaran «transaksi cinta» di sana” tapi yang keluar dari mulutnya sedikit berbeda “Gianni, biasanya kamu bayar berapa?”
Kantor sekretariat tergelak-gelak, tawa meledak.
Saya: “Ya Gianni. BERAPA biasanya kamu membayar?”
Gianni bete. Dia mengaku selalu setia dengan istrinya dan TIDAK pernah menggunakan jasa prostitute.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
8:52 AM
6
comments
Labels: quotidianeità
O’Father please forgive me for I have sinned.
Saya ingin membuat satu pengakuan. Saya merasa linglung di Jakarta.
Masalahnya mungkin tampak simpel tapi tolong jangan remehkan!
Buat laymen (si awam, seperti saya ini) perlu pengetahuan filosofikal yang solid untuk menganalisanya. Jadi begini: di Jakarta tercinta namun penuh asap timbal ini saya telah beberapa kali mencoba melamar pekerjaan. Pekerjaan formal dan informal dan mencarinya pun dengan metode konvensional, via iklan-iklan pekerjaan di media. Mata saya kini terbiasa skimming job ads tersebut (nb. yang tak jarang ditulis dengan bahasa Inggris yang “seadanya” di mana error gramatikal bergelimpangan, hmm … tapi bukan itu inti enigma kita kali ini). Bukan bohong bukan bual, saya kini piawai skimming syarat dan presyarat, requirements di job ads. Tapi … ini dia the crux of the question, kadang saya mandek, entah bagaimana harus bersikap. Soalnya seringkali diminta “BERWAJAH DAN PENAMPILAN MENARIK” dan reaksi saya seketika, waduh kriterianya apa yah? Apakah direktur (HRD) company tersebut akan membuat checklist saat menginterview saya? Ngomong-ngomong wajah dan penampilan yang menarik itu seperti apa sih? Adakah kisi-kisi guide berwajah aduhai. Bah … padahal job tsb sama sekali tidak mencari model atau pemain sinetron loh!
Tapi satu lagi yang lebih impresif, kadang syarat yang harus mutlak saya miliki, “BERKEPRIBADIAN MENARIK” whoaaaah… hang on a sec, bodohnya saya, selama ini saya pikir kepribadian (personality) itu sebuah konsep abstrak. Oh la la seandainya saja Socrates atau Plato 2500 tahun yang lalu sempat menerawang dan menulis kitab “Dapatkan kepribadian menarik”, bayangkan betapa kita semua akan beruntung jika ada panduannya. Sungguh saya ter-intrigued untuk mengetahui di mana kepribadian saya di skala korporat mereka, apakah saya menarik atau membuat orang ingin muntah? Tolong kontak saya bagi yang telah menemukan metode pengukuran penampilan dan kepribadian yang “menarik” yah yang kira-kira, approximate juga boleh kok.
Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa.
post scriptum: Saya telah berkecimpung makan asam garam melamar kerja di luar Indonesia, tapi memang tak berguna mendebati sistem HRD di RI sangat unik, jauh lebih sophisticated (err …!) dari HRD negara-negara industrial.
pps. bagi pengunjung setia blog ini, ada sedikit utang dari saya sekaligus token tanda kangen saya terhadap negeri Italia. Tolong jangan tanya apakah saya rindu negeri Italia!!! Jawabannya sama seperti jawaban Anda, “Apakah ikan berenang di air?”
Il Duomo di Pavia
Piazza principale di Pavia
Kota Pavia, piazza dan Duomo di Pavia. Saya mengunjungi kota tranquil Pavia di suatu kesempatan yang sangat singkat, bulan Mei lalu. Sebab jarak Pavia dan Milan yang tak lebih dari 30 menit dengan kereta, mudah saya tinggal melompat ke gerbong trenitalia. Pavia sendiri, seperti kota-kota provincial Italia lainnya, berukuran human-scale. Justru ini kesuperioritasan bangsa Eropa dari Amerika/Asia (buang jauh-jauh filosofi, bigger’s better beurkk…).
Centro Pavia tak terlalu besar, tenang, dengan centro yang “megah”. Di mata saya memang megah, grandiose, tapi sangat elegan sebab tepat di smack bang centro-nya katedral Pavia berdiri anggun mengerling kepada pengunjung. Salah satu masterpiece arsitektural era Byzantium yang tak banyak ditemukan di Italia.
Dan seperti kota-kota Nord (Utara) lainnya, Pavia berlandscape rata, flat, maka itu sepeda-sepeda pun mudah melaju di mana-mana. Ditambah lagi dengan komunitas mahasiswanya. Yah, begitulah si cabe rawet Pavia, kotanya boleh kecil cuwil tapi universitasnya (Università di Pavia) salah satu universitas TERTUA di Eropa (abad ke-12) dan sangat TERKEMUKA seantero Italia.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
11:42 AM
2
comments
Labels: quotidianeità, turismo
Italians seringkali, di tengah percakapan, bereksklamasi "Assurdo" yang kurang lebih ekuivalen dengan anglosakson "Unreal", atau "Allucinante" yang secara literal berarti "hallucinating" namun kedua ujaran ini lebih ke arah negatif.
Dan kemarin pun saya harus menahan diri untuk tidak berteriak di depan muka trenitalia (perusahaan kereta api Italia) ASSURDO!
Sebab musababnya? Karena saya bukan saja tidak senang dengan pelayanannya, bukan saja dikecewakan, tapi juga tidak dapat mengerti konsep dan sistem organisasi Italians.
Saya bukanlah pendatang baru, telah satu tahun saya di negeri pasta Italia ini. Dan saya berani jamin kalau saya (sudah) jarang mengeluh, tinggal mengelus dada, dan mengernyit kalau perlu.
Tapi kemarin ... rasanya kepala ini ingin pecah. Italia, entah bagaimana ia bisa mengklaim salah satu "anggota G8", "pilar ekonomi Eropa", "negara industrialis", atau pun "negara Uni Eropa".
Italia di bawah permukaan kulit sebenarnya adalah negeri berkembang, tak jauh beda dengan Indonesia atau negara Afrika.
Jadi, kemarin saya memutuskan untuk mengambil kereta Eurostar. Status saya sebagai pelajar tidak memberi saya privilege untuk bisa menaiki kereta terekslusif di Italia ini.
Namun, jangan salah Eurostar Italia bukanlah Eurostar yang kita kenal, yang dioperasikan di France/UK.
Dan Eurostar pertama saya di Italia melaju dengan kecepatan biasa-biasa, termaksimum pun tidak sampai 100kmph (jujur, kereta regional normal di France pun melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi dan tiba relatif on time).
Jalur yang ditempuh: Milan-Florence dengan satu hentian di Bologna.
Dan tebak, kereta Eurostar saya yang sudah melaju dengan santaipun sempat pula berhenti di tengah track, tanpa penjelasan.
Hingga akhirnya tiba di Florence mengaret 35 menit dari jadwal yang seharusnya. Dan sebab keterlambatan fatal ini, saya tidak dapat naik kereta dari Florence yang harusnya membawa saya pulang ke rumah, Perugia, jam 20.00.
Terimakasih banyak trenitalia.
Drama tidak berhenti hingga di sini: kereta ke Perugia berikutnya dari Florence harus saya tunggu dua jam berikutnya. Ah Florence memang bagus, tapi untuk menunggu bak sapi ompong di stasiun kereta-nya, NO Grazie.
Tapi apa daya, kereta tersebut satu-satunya opsi saya.
Tebak: kereta tersebut pun harus berangkat terlambat pula. Saya tidak tahu sebabnya namun yang pasti dengan dua jam non-produktif, dengan mata mengantuk telah jam 21 malam, dengan tubuh lunglai nan cape, masih pula harus ditambah dengan keterlambatan ekstra 55 menit.
Total keterlambatan dua kereta (cuma dua kereta! bayangkan kalau saya harus mengambil atau berganti lebih banyak kereta) tiga jam setengah. Hmm 3,5 jam bukanlah waktu singkat, dan yang mengesalkan adalah apa yang saya bayar, asumsi saya membeli service Eurostar, dengan tarif premium, tidak saya terima sama sekali.
ASSURDO.
Trayek 5 jam yang sudah sangat melelahkan buat saya, bak bulan-bulanan dan belaskasihan di tangan trenitalia, menjadi 8,5 jam tanpa ada penjelasan sedikitpun.
ALLUCINANTE.
Italia, terra superindah bak negeri dongeng ini, terlalu tidak efisien. Ia layaknya menyandang gelar negeri terbelakang dalam banyak hal.
+++
Dan Italia hari-hari terakhir ini sibuk membicarakan merger dua bank mereka yang akan menjadi bank TERBESAR no 2 di dunia (setelah Citibank).
Bisa kamu bayangkan chaos yang akan tercipta, monster apa yang akan kita hadapi, bank terbesar no 2 sedunia dikelola oleh Italians?
Jujur, ngeri saya membayangkannya!
Posted by
CIAO ITALIA!
at
5:37 PM
4
comments
Labels: quotidianeità
And today is ferie (holiday) for the Italian Liberation Day, from the fascism when the Allied troops supposedly "landed" and "liberated" Italy from the bloody hands of Mussolini.
Sounds intriguing enough albeit the actual process was somewhat more "al rallentatore" —as say the Italians, "scene by scene"— the Allied, especially the Yankees, as a matter of fact didn't do a thing, lounging along the Mediterranean coast strategising and, eventually, yes, stormed the fascist from the south (Sicily) as to corner the baddies (area Northern Italy/ South Germany).
There's many "feste" (parties) let alone impromptu street celebrations (think the French Bastille Day in Paris). More sombre commemorations by the President, PM, ministers, and senators in Campidoglio, Rome, this morning.
Your typical Italian window, with their washing all for the world to see (and admire?)
Orvieto, Umbria, Italy.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
12:34 PM
0
comments
Labels: quotidianeità
Posted by
CIAO ITALIA!
at
10:59 AM
1 comments
Labels: quotidianeità
Mau mendengar lelucon seks alla italia?
D : Ma tu parli con sua moglie quando fai l'amore?
R : Beh' se mi chiama sì.
Kira-kira seperti ini,
Q : But do you talk with your wife when you make love?
A : Err yeah... if she calls me!
[sang suami berinsinuasi tidak sedang making love dengan istrinya tapi dengan gula-gulanya]
Posted by
CIAO ITALIA!
at
10:49 PM
3
comments
Labels: quotidianeità
Monica (en haut); Valentina, Francesca, Gregoire (belge), ..., Guiglielmo (Spaniard) et l'indonésienne Anna.
Salut les amis
Je n'ai que une nouvelle, terrible e très triste et j'espère que vous compreniez la raison pour la manque de nouvelles de ma part.
Alors ca concerne d'une des étudiantes indonésiennes ici à Perugia, elle s'appelais Anna et bien sûr vous l'avez vue dans une des photos queje vous ai envoyées. Donc Anna a décidé de prendre une vacance en Allemagne en visitant une amie, je l'ai aidé d'acheter le billet d'avion, Verona-Francfort, et elle devait retourner fin novembre.
Le matin, exactement, du trente nov, on a reçu un coup de téléphone d'Allemagne, mauvaise nouvelle vraiment que notre amie, Anna, avait eu un accident. Et qu'elle était morte.
On pouvait pas y croire naturellement, nous tous on n'est pas allé à leçon en attendant plus informations plus définitives. Enfin, quelqu'un de l'ambassade indonésienne de Rome nous a appelé.
Affirmation. C'était vrai. Elle n'était plus avec nous. Absurde. On pleurait tant ce jour-là. Moi, je restais triste vu que je l'avais connue bien depuis cinq mois, mais les autres c'est vraiment tant plus difficile pour eux, ils sont amis avant déjà depuis Djakarta.
Les circonstances jusqu'ici quand-même restent peu clair, l'autre jour le consulaire indonésien de Rome nous a donné un avis que la police allemande continuait leur investigation. Les théories sont qu'elle a trompé le train à Führ, elle devait
prendre son avion à Francfort et avait décidé de reprendre le rail (the trackway) pour y arriver en temps à l'aéroport. L'autre est peut-être, semble plus terrible, au moins pour nous, qu'elle a suicidé ou était été morte ou violée. Enfin, sa famille attend en angoisse, si tout va bien vendredi soir le corps arrivera à Djakarta. Et nous ici à Perugia, on essaie de faire tout ce que l'on peut, on a parlé avec un responsable de l'unversité et ensuite «la padrona» une madame très froide qu'au début pensait qu'on se jouait le con, une mensonge terrible, elle nous répétait ses demandes, "mais c'est vrai?"
Et bon je laisse jusqu'ici.
ciao ciao
Posted by
CIAO ITALIA!
at
10:33 AM
0
comments
Labels: quotidianeità

Housemates, dinner, bermain kartu dan teman-teman mereka.
Dan sebenarnya bukan saja gli Umbri (penghuni regione Umbria) tapi di foto tersebut juga ada seorang Siciliana dan seorang Calabrese.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
8:03 PM
3
comments
Labels: quotidianeità
...
Satu pertanyaan simpel, yang harus saya konfrontasi hingga enam minggu ke depan :
apa yang terjadi jikalau professor kamu bau ketek?
--- dan saya kebetulan duduk di baris terdepan, tereksposi oleh ketek sang professor saya.
dan bagaimana memberitaukannya?
...
postscriptum. padahal selama ini jarang banget loh nemuin orang Italia yg bau badan, sialnya kali ini prof history saya.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
12:42 AM
6
comments
Labels: quotidianeità
Monica (atas); Valentina, Francesca, Gregoire (Belgian), ..., Guiglielmo (Spaniard) dan Anna.
Foto teranyar dari Perugia.
Saya dan conquilini (housemates) dan teman-teman kami.
Makan malam: tortilla spanish dan vino italiano.
...
Boh, che ne so?
Posted by
CIAO ITALIA!
at
10:21 AM
0
comments
Labels: quotidianeità
Satu foto lagi dari Perugia.
Kota Etruska yang menginternasional oleh proyek Jazz dan Chocolate.
Umbria Jazz - lihat entri lama.
EuroChocolate ... hmmm, event yang dicap oleh Perugini (penduduk lokal) più commerciale - paling komersial.
Ya iyalah, gimana ngga.
Ide awalnya mungkin novel yah. Tapi tahun ini, dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan ini hanya ajang mencari duit.
Stand Perugina mendominasi setengah piazza dan corso Vannucci.
Perugina memang pabrik cokelat lokal dan kebanggaan seluruh Perugia dan Umbria. Tapi mereka curang. Mereka bahkan tidak mengizinkan kehadiran Ferrero Rocher, salah satu produsen cokelat (lezaaaaaaaaaaat) besar Eropa.
Dan event ini disebut EUROCHOCOLATE. Mamma mia!
D'oh!
+++
Sedang saya sendiri cukup menikmati. Ada satu stand cokelat TOGO yang berbaik hati membagi kebahagian kepada setiap pengunjung. Dan jadilah saya menguyah tujuh batang Togo dalam tempo 10 menit. Yang penting harus rajin menghampiri stand dan ngga malu untuk minta.
There's no such thing as free chocolate!
Euuh .... ???
+++
Selamat Idul Fitri juga yah!
+++
Posting berikut, semoga saya pun ada waktu untuk menuliskannya:
WEEKEND lalu, dari Roma sempat ke zona Castelli Romani, ke dua desa kecil (yang nb. bisa disebut dominion the Pope)
Castel Gandolfo - lunch cucina tipica romanesca (Roman cuisine) yang sangat mengeyangkan luar biasa, pfff....
Rocca di Papa - sagra della castagna
Posted by
CIAO ITALIA!
at
4:59 PM
3
comments
Labels: quotidianeità
« Farsi vivo! » = make yourself heard (eg. tell us how things are going etc.)
Frase Italian yang berguna, kan?
Tutto normale. Perugia, dan seluruh semenanjung Italia, masih hanging on kepada sisa-sisa kehangatan matahari musim panas. Sayangnya, saya ngga bisa mengambil keuntungan ... sebab, jadual università terlalu padat. Padahal rencana jalan pun masih panjang, tertunda dan ngga terlihat cahaya di ujung terowongan?, Napoli, Bologna, Sicilia, Milano, Venezia.
Oaaah...
Via Appia, Perugia, Italia
Senja, Adit, Heti, Macchiato, Indri dan Tanti
Rumah baru pun perlahan-lahan mulai mematerialisasi menjadi "casa" (rumah). Housemates baru empat orang.
Kamar tiga.
Dua double.
Satu single.
Dan lagi-lagi diperlukan toleransi. Dalam dosis besar.
Housemates saya semuanya merokok. Dan saya ngga. Solusi: buka jendela lebar atau menyingkir ke kamar sendiri (setidaknya menjadi zona netral).
Bagno (WC) satu, penghuni lima. Solusi: untungnya kelas saya mulai pagi semua hingga selalu pasti duluan bisa menggunakannya. Atau, ini ngga pantes diceritain sih sebenarnya, berangkat dan tiba lebih awal ke università untuk pinjam WC-nya yang nyaman itu.
ciao ciao...
ps. Tinggalkan pesan, mi raccommando ragazzi! Bukan kenapa-napa, tapi kalo ngga pesan dari kalian, jadi males nulis blog ini loh.
Selamat Puasa & Lebaran euy!
Posted by
CIAO ITALIA!
at
9:53 AM
2
comments
Labels: quotidianeità
The Italian language has a decent proverb regarding amore, love, etc:
Al cuore non si comanda.
=One does not command the heart=
Oooh how ironically justified.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
11:13 AM
0
comments
Labels: quotidianeità
Kelas Italian saya akan berakhir minggu depan. Dan tentunya masih akan melanjutkan kelas berikutnya, 4º grade.
Ah senang ati, tampaknya akan lebih besar tantangan sebab selain kelas grammatica pun ada kelas pilihan elektif: story, translasi, dll.
Pun moga-moga bisa ketemu lebih banyak temen yang menyenangkan.
Berita terakhir: saya akan pindah rumah lagi akhir bulan ini, Sept. Kali ini, rumah baru lebih kecil, penuh keuntungan dan ketidakuntungan: lebih deket ke universitas, lebih deket ke centro, sehingga ngga perlu terlalu bersusah payah di musim dingin menjelang, plus prospek (akhirnya) tinggal dengan locals, empat student Italian. Sewa yang harus dibayar pun tampaknya akan lebih ekonomis tapi tentu aja apt ini karena dekat centro, pusat kota, maka keciiiiiiiil sekali, satu kamar mandi dibagi untuk total lima penghuni oooaaah ... dan, ngga ada mesin cuci, hingga nanti harus ke lavanderia (landromat).
Hidup bukan cuma item dan putih melainkan gradual warna.
Posted by
CIAO ITALIA!
at
12:48 PM
0
comments
Labels: quotidianeità
defying fate, pursuing AMORE