Visualizzazione post con etichetta indonesianità. Mostra tutti i post
Visualizzazione post con etichetta indonesianità. Mostra tutti i post

dicembre 17, 2007

Kopinya pahit, gelasnya kecil

Entah kapan terakhir gue ke Starbucks. Terlalu banyak lama purnama untuk gue mengingatnya.

Hingga kemarin. Gue putuskan untuk menjejakkan kaki di bintang hijau Grand Indonesia.

Di counter hanya ada dua cewe, satu kasir satu barista (at least she wears the apron!).

- Mbak, macchiatto satu yah.

"Mas... yakin pesen ini? Espresso itu kopi pekat dan pahit loh!"

Gue cuma ngangguk. Yakin, kok, Mbak.

Ngga lama kemudian, yang satu lagi angkat bicara dari balik apronnya.

"Mas gelasnya seperti ini, kecil loh! Ngga apa-apa nih? Yakin?" teriaknya, sambil menunjukkan cangkir espresso seakan ingin menjelaskan satu tambah satu sama dengan dua untuk pertama kalinya kepada gue.

- Iyah, Mbak.

Gue menggangguk.

Wow, ini mungkin yang dimaksud oleh Ve Handojo dengan kisahnya saat gerai kopi-cepat saji buka pertama kalinya di Indonesia: sekelompok bapak-bapak berkumis masuk dan cepat-cepat mengambil tempat duduk, sambil berteriak kepada sang kasir di balik counter, "Mas kupinya yah!"

dicembre 12, 2007

Status dan Cooking Demo

Memiliki status "contributor" membuka pintu. Plus jendela sekaligus. Memang cukup menyenangkan, setelah The Jakarta Post memuat beberapa tulisan saya, kini mencari material berita, artikel untuk features The Sunday Post semakin mudah. Minggu lalu misalnya, saya diundang sebagai observer di acara cooking demo di sebuah hotel di Sudirman. Resto bintang lima dengan hidangan yang rich, baik contents maupun harga (siapkan kocek tebal) ... dan saya mengamati, dijamu. Mulai dari hidangan pembuka, main course hingga penutup dan ... anggur. Teks tulisan sudah dikirimkan ke Jkt Post, moga2 mereka akan mempublish segera. Tapi sayangnya, sistem di Jkt Post adalah: kalau dipublish ya dipublish, kontributor tak tau kapan dipublish dan tau-tau "ah ini kan gue kirim lebih dari sebulan yang lalu."

Memiliki status di Jakarta memang esensial, helps you go places.


ciaoo

settembre 28, 2007

Cek gaji pertama saya dalam Rp. ─ WOW!



Waks, susah banget hidup di Jakarta:

Inilah pertama kalinya saya secara resmi "earning" penghasilan di atas tanah Jakarta.

Gajinya biasa-biasa, jauh lebih kecil dari 'standard' yang dulu saya nikmati, kerjanya enam hari, (44) empat puluh empat jam seminggu, tapi hasilnya ... yah, kaga seberapa. Belum lagi bos ekspat yang irascible, mudah dan selalu [marah-marah (aja kerjaannya)].


Kantor boleh ekspat tapi standard upah, sialnya, tetep lokal, plus jam kerja lebih buruk dari jam kerja buruh pabrik di Tangerang sana.

Dan kata mereka "wah enak banget kerja sama expats!"

Err... sure!