agosto 28, 2009

Hobi baru - Canon 50D - Goin to Italy

Aku punya hobi baru.

Namanya fotografi amatir.

Kata beberapa orang, ini hobi murah meriah yang menyenangkan.

LOL—murah itu relatif, mengingat investasi buat photographic gear bisa cukup substansial.
Tapi meriah dan menyenangkan, iya sekali.

Komentar para teman ditunggu yah.
Komentar positif atau konstruktif, improvement kualitas foto di bawah ini...

Sydney University, Sydney, August 2009











agosto 14, 2009

Kacamata Orang Asing

Ciao Teman,

Halaah, lagi-lagi alasan basi, sibuuuuk banget.

Vacation is knockin' and I am billowin' ... Iyah, Itali aku datang!

Panggil aku manusia boring*, tapi aku udah siap menjejak museum di sana.
(*cuma orang-orang yang nggak cool yang liburan malah masuk ke museum ???)

Itinerary masih "open", mungkin bakalan stuck di Roma sebab ada "job kecil" yang mesti digarap. Kalo memungkinkan, mau ngunjungin selatan itali dan Spanyol untuk catching up sama Alberto dan Laura.

Okay, kerja keras di depan komputer masih jadi prioritas selama 3 minggu lagi.

Oh ya, ada satu email menarik (di bawah ini) dari Ibu Fitri yang pasti bikin mikir "hmmm, kenapa semua karya dan job seorang Gama berkisar pada Itali, Eropa, negara asing. Kenapa nggak ada konten lokalnya?"

Alasannya ada dua.

Satu. Menjual kultur/negara nggak gampang. Mesti ada passion. Dan kebetulan passion-ku emang Eropa. Kenapa bukan Amerika atau Australia atau Asia? I dunnoh. Kenapa durian berduri tajam? Who cares.

Kedua. Biasanya nih, the so called "foreigner's eyes" membuat kebudayaan itu jadi lebih memikat. Itu sebabnya kenapa penulis buku-buku mengenai Indonesia didominasi nama-nama asing.

Bule-bule yang jatuh cinta pada RI dan melihatnya dari kacamata unik. Itu sebabnya buku piktorial billboards di pulau Bali yang dibuat oleh bule Ostrali bisa jadi spesial. Kenapa nggak ada penulis lokal yang mau keliling pulau untuk memfoto baliho, neon? Karena mata orang asing lebih peka.

Kenapa buku Insight keunikan kehidupan Jakarta harus ditulis oleh bule UK? Karena indra orang asing terbuka lebar begitu mereka menyicip semua hal-hal ajaib yang ditawarkan oleh Jakarta.

Kenapa teman saya yang lahir dan besar di Roma tak peduli pada Koloseum dan pilar-pilar nenek moyang mereka? Sementara jutaan orang asing sengaja datang ke ibukota Italia untuk menyaksikan saksi sejarah dunia. Lagi-lagi karena "mata orang asing"
lah yang sanggup menangkap hal-hal ini. Mata lokal tak lagi sensitif.

That's how it is. A matter of perception and passion.

Terima kasih sekali pada Ibu Fitri. Tentu saya berharap bisa menjelajahi kepulauan Nusantara dan mengolah informasi ini pada dunia.

Sampai jumpa bulan depan dari Italia !

Salam kenal
Adik Gama Harjono....

perkenalkan saya ibu Fitri - pernah menjadi Stringer The Jakarta Post di tahun 1996-1998. dan sesekali menulis juga di beberapa media lainnya.

saya membaca buku Ciao Italia - Catatan Petualangan Empat Musim yang anda tulis. Sungguh seru dan luar biasa, detil-detil setiap sudut Italia anda tulis tak ada yang terlewati.

seandainya usia saya se usia anda maka sayapun akan melakukan hal yang sama, sayangnya di saat usia saya se usia anda, belum mendapatkan Rahmat Tuhan untuk bertualang ke luar negeri dan mencari negara yang memikat saya, tapi bukan Italia melain negara Afghanistan - Uzbekistan dan beberapa negara tetangganya , karena negara ini juga mempunyai daya tarik keindahan yang luar biasa memesona sebelum dihantam perang antara etnis maupun antar agama dan antar negara. sehingga keinginan saya tak terwujud,

tapi saya sudah berkeliling Indonesia dari Aceh sampai Papua, sayangnya semuanya sebatas liputan belaka, jadi tulisan saya sifatnya hanya berita atau feature,tak bisa brtualang karena keterbatasan waktu, maklum di ajak pejabat meliput kunjungan mereka jadi saya harus menulis yang bagus-bagus saja.

sekarang di usia menjelang kepala 5, saya punya kesempatan keliling Indonesia, tapi sayang sekali jiwa petualang saya sudah tak ada dan tak bisa menulis dengan gaya bahasa anak muda se usia anda. tentunya gaya tulisan saya bergaya nyokap-nyokap.

kebetulan putri remaja saya usia 17 tahun juga mengikuti jejak saya menulis novel remaja dan sudah ada 2 novelnya dan ingin bertualang ke Korea Selatan selama 1 tahun, belajar bahasa Korea dan menulis novel remaja dengan setting Korea. Mungkin tahun depan akan berangkat. Tapi Virus Flu H1N1 membuat niatnya agak kendor. Dia ingin bertualang keliling Indonesia tapi saya belum mengijinkan dia keliling Indonesia maupun Ke Korea, karena usianya terlalu muda dan mentalnya belum siap walau nalurinya menggebu-gebu.

saya ingin menggetarkan dawai dawai jiwa anda yang sudah bertualang ke berbagai negara cobalah bertualang dari Sabang sampai Merauke..... maka anda akan menemukan apa yang tak akan anda temukan di negara manapun di dunia ini.....

Percayalah.....negara tercinta, tanah tumpah kelahiran anda " Republik Indonesia " ini tak kalah eksotik dari Italia......

Selamat bertualang anak muda .......!

luglio 13, 2009

Dekor dan Personal Room


Seorang teman baik « Indri, yang ketinggalan kunci apartemen di Ciao Italia! » terobsesi akan idea "mendekorasi kamar".

Baginya, punya kamar dengan personal style adalah
fetish. Oh yes, fetish is no understatement here.

Semua mungkin berakar dari apartemen. Apartemen/rumah yang nyaman menentukan tingkat kebahagianmu.

Apartemen mungil Indri pertama kali ada di pinggiran hutan. Di pagi hari, begitu membuka jendela, dedaunan yang basah menyambutnya. Apt ini jauh dari kampus.

Apartemen berikutnya adalah tempat hangout kami. Roommate Indri adalah Claudia, gadis asal Catania, Sicilia. Kamar besar itu diisi dua single bed dan almari raksasa. Foto-foto snapshots menghias dinding di atas tempat tidur.

Indri masih mencari kamar idealnya. Berkali-kali dia sukses mendekorasi. Namun tak lama. Ia berganti-ganti rumah. Sekarang ia berada di Prancis, di negeri impiannya. Posting ini dedikasi untukmu!



ps. foto di atas merupakan apartemen Emanuel, member couchsurfing yang memberi tumpangan di Marseille. Pintu berkusen biru itu ditujukan untuk para travellers yang nyasar di kotanya. Cortile *teras internal* Emanuele kini telah disulap seperti lokasi brunch yang sempurna di akhir pekan.

giugno 30, 2009

update juli 09

Ciao ragazzi!


Lagi pengen update aja. Akhir-akhir ini gue kerja 6 hari per minggu, yeeehaaa. Cape, iyah. Sebenernya lebih cape di commuting aja. Emang sih Sydney kaga macet seperti di Jakarta, tapi tetap aja naik bis/kereta pagi dan malem, 6 hari seminggu, bisa bete.

Alasan knp kerja sepert kuli adalah, entah knp gw lagi workoholik. Di pertengahan tahun banyak bgt yg mesti diselesain. Di kantor rame, ada pelatihan, ada updates.

Mood juga kebetulan lagi bagus. Holiday udah di-approve. Tiket udah ditangan. Airport sudah membayang. Flight terakhir gw setahun yg lalu. Saatnya ber-jetleg-ria, saatnya menikmati nasi lemak untuk breakfast di ketinggian 30 000 kaki. Saatnya High Mile Club?! Hehe, kaga kali.

Lalu, naskah untuk buku ke-2 juga udah ”kelar”, cuma perlu re-touch di sana-sini. Okay, meski udah selesai, proses editing bakal memakan waktu. Untungnya gw bisa sabar, proses nulis 1 tahun, editing bakal berbulan-bulan. Lama bgt yak, you betcha!

Inilah bedanya nulis buku dg nulis artikel lepas. Awalnya gw pikir artikel udah lumayan lama –sedikit bocoran, gw harus nunggu approval dari redaktur Jakarta Post, begitu okay, artikel naik cetak mungkin masih dua minggu kemudian– lalu Jakarta Post membayar honor paling cepat 6 minggu kemudian.

Kedengarannya lama? Dibanding buku, itu termasuk cepet!

Udah lama banget gw nggak freelance. Naskah buku terlalu menyita waktu. Perasaan bangga pasti keluar begitu ngeliat tulisan kita di media nasional. Perasaan lebih bangga lagi ngeliat buku terdistribusi, entah knp gw merasa udah meninggalkan “jejak” gue via buku. Buku bisa beredar hingga bertahun-tahun, beda dengan artikel koran yang sehari dibaca besok jadi bungkus nasi uduk.

Anyhoooww, talk later.

ciao ciao
ps. posting foto Itali pasti menunggu di bulan september